Sabtu, 01 Desember 2012

Bolehkah minum obat dengan susu ??


Tidak asing dengan kata-kata “Jangan meminum obat dengan susu!” atau kalimat “susu bisa menetralkan obat” ??? benarkah ??? mitoskah ??? atau Cuma sekedar katanya ???
Baiklaah mari kita bahas satu persatu..
Seseorang akan mengkonsumsi obat jika dirinya terkena penyakit infeksi. Penyakit  infeksi ini ternyata masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting ,khususnya dinegara berkembang. Salah satu obat andalan untuk mengatasi masalah tersebut adalah antimikroba antara lain antibakteri/antibiotik, antijamur, antivirus, antiprotozoa.
Antibiotik merupakan obat yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Berbagai studi menemukan bahwa sekitar 40-62% antibiotik digunakan secara tidak tepat antara lain untuk penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak memerlukan antibiotik. Pada penelitian kualitas penggunaan antibiotik diberbagai bagian rumahsakit ditemukan 30% sampai dengan 80% tidak didasarkan pada indikasi (Hadi,2009).
Definisi antibiotik yang kita tahu adalah bahan kimia yang dihasilkan oleh mikroba yang dalam konsentrasi tertentu mempunyai kemampuan menghambat atau membunuh mikroba lain. Pada perkembangannya bahan yang dapat dikelompokkan sebagai antibiotik bukan hanya hasil alamiah saja, akan tetapi bahan-bahan semisintetik yang merupakan hasil modifikasi bahan kimia antibiotik alam (Sumadio dan Harahap, 1994). Antibiotik digunakan untuk membasmi mikroba penyebab terjadinya infeksi. Gejala infeksi terjadi akibat gangguan langsung oleh mikroba dan berbagai zat toksik yang dihasilkan mikroba. Pada dasarnya suatu infeksi dapat ditangani oleh sistem pertahanan tubuh, namun adakalanya sistem ini perlu ditunjang oleh penggunaan antibiotik. Antibiotik yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab infeksi pada manusia, harus memiliki sifat toksisitas selektif (Ganiswarna, 1995).
Artinya antibiotik harus bersifat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk hospes. Toksisitas selektif tergantung kepada struktur yang dimiliki sel bakteri dan manusia misalnya dinding sel bakteri yang tidak dimiliki oleh sel manusia, sehingga antibiotik dengan mekanisme kegiatan pada dinding sel bakteri mempunyai toksisitas selektif relatif tinggi.
Berdasarkan sasaran tindakan antibiotik terhadap mikroba maka antibiotik dapat dikelompokkan menjadi lima golongan yaitu :
a.       Antibiotik penghambat sintesis dinding sel mikroba. Antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah penisilin, sefalosporin, basitrasin, dan vankomisin.
b.      Antibiotik penghambat sintesis protein sel mikroba. Antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah golongan aminoglikosida, makrolida, kloramfenikol, linkomisin dan tetrasiklin.
c.       Antibiotik penghambat sintesis asam nukleat sel mikroba. Antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah rifampisin dan golongan kuinolon.
d.      Antibiotik pengganggu fungsi membran sel mikroba. Antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah golongan polien.
e.      Antibiotik penghambat metabolisme mikroba. Antibiotik yang termasuk kelompok ini ialah sulfonamida, trimetoprin dan asam p-amino salisilat (PAS) (Ganiswarna, 1995).
Lalu dari mana asal muasal doktrin “ Jangan minum obat dengan susu, karena susu menetralkan obat “ ?
"Hanya sebanyak 15% dari antibiotik oral (pil) yang akan bermasalah jika diminum bersama dengan susu. Termasuk di antaranya ialah Tetrasiklin (seperti Doxycyclin dan Minocyclin) dan beberapa Fluorchinolone (terutama Ciprofloxacin dan Norfloxacin)," jelas Pramono, ahli gizi dari RSUD Banjarmasin. Mitos bahwa susu dapat menetralkan obat mungkin berkembang ketika obat Tetrasiklin dipergunakan luas sebagai antibiotik andalan di era 1950-1980. Memang betul, tetrasiklin tidak boleh diminum berbarengan dengan susu. Namun disayangkan masyarakat mengambil kesimpulan sederhana bahwa semua obat dapat berkurang khasiatnya jika diminum dengan susu, dan berpendapat bahwa kurang berkhasiatnya obat tersebut karena susu mampu menetralkan obat.
Perlu diketahui bahwa penyerapan (absorbsi) Tetrasiklin ( dan turunannya ) di dalam lambung di pengaruhi oleh susu dan produk turunannya serta produk yang mengandung kalsium tinggi. Jika Tetrasiklin diminum bersama susu, maka akan terbentuk “chelate” sehingga mengurangi penyerapan Tetrasiklin, akibatnya kadar Tetrasiklin dalam serum menurun dan khasiatnya berkurang. Hal yang sama berlaku juga pada Cyprofloxacindan suplemen Fe ( zat besi ), dimana penyerapannya terganggu bila diminum bersama susu. Boleh jadi, inilah salah satu alasan yang mendasari para petugas kesehatan di masa lalu dalam memberikan saran kepada para pasien agar tidak minum obat bersama susu kemudian doktrin tersebut berkembang sampai sekarang dan diberlakukan untuk semua jenis obat.
Obat yang dikonsumsi secara oral akan lebih efektif bagi seseorang jika dikonsumsi dengan cara pemakaian yang benar dan diserap dengan baik oleh tubuh. Obat oral harus diserap dari saluran pencernaan hingga masuk ke dalam aliran darah lalu dikirim ke jaringan sel yang sakit. Sedangkan yang akan terjadi jika kita meminum obat tetrasiklin dengan susu adalah kalsium yang terdapat dalam susu akan mengikat obat tersebut sehingga membuatnya tidak larut dalam usus dan mencegah penyerapan obat tersebut ke dalam jaringan sel tubuh, mengonsumsi susu setengah liter saja sudah bisa mengurangi efektivitas antibiotik hingga 80 persen. Tetrasiklin adalah antibiotika yang digunakan untuk melawan infeksi. Akibatnya: infeksi yang diobati tidak terkendali dengan baik dan tetrasiklin terikat oleh kalsium pada susu, sehingga membentuk senyawa yang tidak mungkin dapat diserap lagi dari usus kedalam darah.
Jadi sebenarnya susu tidak menetralkan obat, hanya saja kalsium yang terdapat pada susu akan menghambat penyerapan obat sehingga kerja obat tergangu dan bakteri penginfeksi akan tetap berkembang. Hal ini dikarenakan efek tetrasiklin dalam mempengaruhi sintesis protein sel mikroba menjadi kurang. Padahal yang kita harapkan dari penggunaan obat tetrasiklin ini adalah fungsinya yang  dapat menghambat perlekatan tRNA yang membawa asam amino ke ribosom sehingga penambahan asam amino ke rantai polipeptida yang sedang dibentuk menjadi terhambat dan penambahan jumlah bakteri penginfeksi juga terhambat.
Biasanya obat golongan tetrasiklin ini digunakan untuk mengobati infeksi jenis yang sama seperti yang diobati penisilin Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi pada saluran napas bagian atas seperti sakit tenggorokan, flu, untuk infeksi telinga, bronchitis kronik, pneumonia, saluran kemih (kandung kemih dan ginjal).  dan juga untuk infeksi lainnya seperti kolera, demam berbintik Rocky Mountain, syanker, konjungtivitis mata, dan amubiasis intestinal. Dokter ahli kulit menggunakannya pula untuk mengobati beberapa jenis jerawat.
Tips aman yaitu tanyakan pada dokter jenis obat apa yang anda konsumsi. Tetapi jika anda masih ragu atau merepotkan lebih baik minum obat dengan air putih saja. Air putih akan melarutkan obat dalam lambung sehingga lebih mudah diserap. Obat yang ditelan begitu saja tanpa air putih bisa menempel di suatu tempat tertentu di lambung dan menyebabkan iritasi lambung juga. Oleh karena itu, lebih baik obat diminum bersama air putih. Kalau anda ingin meminum susu, lebih baik 2-3 jam setelah meminum obat.


Chironomidae


Dasar Teori
Chironomidae merupakan keluarga nematoceran flies yang memiliki distribusi global. Berkerabat dengan Ceratopogonidae, Simuliidae, dan Thaumaleidae.
Larva dapat ditemukan hampir disetiap perairan, warna larva biasanya merah terang dan sangat menarik perhatian, berukuran lebih kurang 1cm, bagian mulut biasanya terlihat jelas, jenis larva ini biasa dikenal dengan nama cacing darah.
Larva ini biasa dijadikan sebagai organisme indikator atau indikator biologis. Keberadaannya di perairan mengindikasikan adanya polusi. Fosil larva ini juga dapat dijadikan indikator mengenai perubahan lingkungan pada masa lampau.
Menurut Cambell et al (2009), kromosom adalah materi berbentuk benang pembawa informasi genetik yang dapat ditemukan di nukleus pada sel eukariotik. Pada sel prokariotik kromosom merupakan pembawa informasi genetik utama. Kromosom dapat diamati dengan jelas selama pembelahan mitosis atau meiosis. Pada kromosom terdapat rantai double helix DNA dengan panjang ± 4 cm, ribuan kali lebih panjang dari diameter nukleus. Setiap rantai double helix ini dikemas sedemikian rupa hingga terbentuk kromosom dan dapat disimpan dalam nukleus. Penyimpanan double helix ini berkaitan erat dengan protein kecil yang disebut histone (Campbell et al, 2009).
Dalam siklus sel, kromosom lebih sering berada dalam wujud kromatin, serabut panjang dan tipis. Selagi sel bersiap untuk membelah, baik mitosis maupun meiosis, kromatin kemudian menggulung untuk membentuk kromosom. Pada kondisi ini, kromosom dapat diamati di bawah mikroskop cahaya (Campbell et al, 2009).
Kromosom politen adalah salah satu jenis kromosom unik yang dapat dijumpai pada organisme eukariotik di samping beberapa jenis kromosom unik lainnya. Kromosom unik lainnya adalah lampbrush chromosome, kromosom-B, dan kromosom holokinetik (Anonim, 2009). Pada percobaan ini akan banyak dibahas mengenai kromosom politen.
Pada kelenjar ludah organisme dari ordo diptera, ketika sel mencapai tahap interfase, kromosom mengalami replikasi hingga 10 kali tanpa pernah memasuki tahap mitosis. Akibatnya, sister chromatids tidak pernah terpisah dan setiap kromosom terdiri dari 1024 double helices. Selain itu, karena kromosom homolog pada tahap interfase berpasangan dengan sangat erat maka terbentuklah kromosom yang sangat tebal yang disebut kromosom politen. Sedangkan, proses replikasi kromosom tanpa diikuti mitosis ini dikenal sebagai endomitosis.
Organisme  pada ordo diptera umumnya memiliki kromosom raksasa sehingga kromosom dari organisme ini sering digunakan sebagai obyek percobaan.  Pada percobaan ini digunakan kromosom pada kelenjar ludah larva Chironomus sp. Kromosom raksasa yang terdapat pada kelenjar ludah Chironomus sp. ini digunakan sebagai obyek percobaan karena memiliki ukuran yang besar sehingga mudah untuk diamati. Selain itu, karena struktur jaringan kelenjar ludah, maka pengambilan, pengamatan, dan pembuatan preparat kromosom relatif mudah dilakukan.
Pada kromosom politen terdapat pola pita terang dan gelap. Berdasarkan penelitian mikroskopik, pita terang dan gelap ini disebabkan oleh perbedaan kerapatan kromatin dalam kromosom. Kromatin pada pita gelap tersusun 10 kali lebih rapat dari pada kromatin pada pita terang. Selain itu, terdapat pula heterokromatin yang merupakan gabungan dari sentromer kromosom-kromosom yang ada di nukleus, heterokromatin ini disebut sebagai kromosenter. Pada kromosom politen ada juga puff, penebalan area kromosom karena gen pada kromosom tersebut tengah mengalami transkripsi.